November 22, 2012

GORONTALO, KOMPAS - Laju kerusakan hutan di Gorontalo yang mencapai hampir 4.000 hektar per tahun telah mengancam habitat burung maleo (Macrocephalon maleo). Populasi burung yang kini berstatus genting ini hanya sekitar 10.000 ekor saja di Gorontalo. Padahal, 15 tahun lalu jumlah burung endemik Sulawesi ini masih 25.000 ekor.

”Penyebab utama menurunnya populasi burung maleo adalah perambahan kawasan hutan dan pengambilan telur maleo oleh manusia. Tingginya laju kerusakan hutan di Gorontalo yang hampir 4.000 hektar per tahun telah mengganggu habitat maleo,” ujar Amsurya Warman, peneliti senior dari Burung Indonesia, organisasi nirlaba bidang pelestarian burung di Indonesia, Minggu (20/11), di Gorontalo.

Amsurya menambahkan, maleo sangat sensitif terhadap segala bentuk aktivitas di sekitar habitatnya. Jika ada aktivitas manusia di sekitar lokasi bertelurnya, maleo akan berusaha mencari lokasi baru untuk bertelur. Aktivitas seperti perambahan hutan adalah aktivitas manusia yang paling mengancam kelangsungan hidup maleo.

Umumnya, maleo bertelur di daratan yang hangat, seperti tanah berpasir dekat pantai atau di kawasan hutan. Suhu tanah yang cocok untuk peneluran maleo berkisar antara 32-34 derajat celsius. Lokasi peneluran maleo di Gorontalo masih bisa dijumpai di kawasan Cagar Alam Panua dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Adapun total luas hutan di wilayah Provinsi Gorontalo, menurut data Dinas Kehutanan dan Pertambangan Provinsi Gorontalo, tercatat 800.000 hektar.

Asisten Peneliti dari Wildlife Conservation Society (WCS), organisasi nirlaba bidang pelestarian kehidupan alam liar, di Gorontalo, Usman, mengatakan, pada akhir tahun 1970-an masih mudah ditemukan maleo di Gorontalo. Bahkan, persebaran burung maleo ibarat ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran di permukiman warga. Di awal 1980-an mulai terjadi perburuan telur maleo.

”Telur maleo saat itu dipakai untuk perlengkapan upacara adat warga. Seperti telah menjadi keharusan, setiap upacara adat harus ada telur burung maleo. Akibatnya, kebutuhan terhadap telur maleo menjadi tinggi sehingga mengancam kelestarian burung tersebut,” kata Usman.

Sejak 2003, WCS mulai serius menjaga kelestarian maleo di Gorontalo. Usaha tersebut berupa pemindahan telur maleo di alam liar ke lokasi peneluran buatan.

Pemindahan ini bertujuan untuk menyelamatkan ancaman pemangsa, seperti ular atau biawak, yang kerap mengincar telur maleo di alam liar. Hingga delapan tahun terakhir berhasil di lepas sekitar 3.200 ekor anak maleo dari lokasi peneluran.

”Jika tidak kami pindahkan telur-telur tersebut ke lokasi peneluran buatan, tingkat keberhasilan telur maleo menetas dan anaknya selamat tak sampai 50 persen. Ancaman predator alami, terutama di dalam kawasan hutan, masih tinggi,” ujar Usman.

Maleo mulai bertelur pada usia tiga tahun dan dalam setahun bisa menghasilkan rata-rata 10 butir telur. Maleo mengubur telurnya di dalam lubang berkedalaman hingga 60 sentimeter.

Agar tidak diganggu predator, maleo selalu membuat dua atau tiga lubang galian dan hanya satu lubang yang berisi telur. Telur maleo akan menetas setelah berusia rata-rata 60 hari.


Posted in: Maleo

Copyright 2007-2017 by Wildlife Conservation Society

WCS, the "W" logo, WE STAND FOR WILDLIFE, I STAND FOR WILDLIFE, and STAND FOR WILDLIFE are service marks of Wildlife Conservation Society.

Contact Information
Address: 2300 Southern Boulevard Bronx, New York 10460 Phone Number: (718) 220-5100